Kapal Masih Berlayar: Apa yang Moby Dick Ajarkan tentang Demokrasi Indonesia ?

Captain Ahab tidak menghancurkan Pequod karena ia membenci paus putih semata. Ia menghancurkannya ketika seluruh awak kapal berhenti mampu mengatakan tidak. Saya tergoda membaca kembali Moby Dick (Melville, 1851), setelah difilmkan jadi miniseri di FoxTV. Membaca kembali Moby Dick menjadi terasa relevan di tengah gejala menguatnya militerisme, legal authoritarianism, dan democracy backsliding. Kabar itu membuat […]

Dari “Rule of Law” ke “Rule by Autocracy”

–RESENSI BUKU– Gramedia Jalma Semarang masih berbau baru. Toko buku yang dulu dikenal sebagai Gramedia Pandanaran kini lebih terang dan lapang; di sudutnya, mesin espresso menguarkan aroma kopi pada sore itu. Saya duduk di bangku baca, membuka halaman pertama Autocracy, Inc. karya Anne Applebaum. Di sekeliling saya, beberapa pengunjung asyik dengan ponsel—sunyi di luar, riuh […]

Menjemput Fajar Dialog: Mengenang Jürgen Habermas dalam Labirin Hukum Kita

Kabar berpulangnya Jürgen Habermas beberapa waktu lalu terasa seperti sebuah jeda yang sunyi di tengah hiruk-pikuk dunia yang kian bising oleh polusi informasi. Jika kita mengibaratkan pemikiran filsafat yang berat sebagai secangkir kopi di pagi hari, maka warisan Habermas adalah segelas espresso yang sangat pekat. Pada sesapan pertama, ia mungkin terasa pahit dan menghentak bagi […]

Praperadilan dalam Bayang Kuota Haji

Kasus praperadilan yang diajukan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas terhadap KPK membuka kembali diskusi klasik dalam hukum pidana kita: negara boleh sejauh apa dalam menggunakan kewenangannya? Di tengah sorotan publik terhadap dugaan korupsi kuota haji 2023–2024, perdebatan justru bergeser dari substansi perkara ke prosedur penegakan hukumnya. Inilah inti persoalannya. Dalam negara hukum, prosedur bukan […]

Kapitalisme Pemangsa dan Negara yang Kehilangan Arah

Ada satu kesan yang segera muncul ketika membaca Vulture Capitalism: alih-alih marah, buku ini justru memberikan ketegasan. Grace Blakely tidak menulis sebagai pengkhotbah ideologi, melainkan sebagai analis ekonomi politik yang ingin menunjukkan satu hal sederhana namun sering dihindari: krisis ekonomi modern bukanlah kegagalan sistem, melainkan keberhasilan logika tertentu dari kapitalisme itu sendiri. Dalam buku ini, […]

Tamparan Untuk Republik Dari Ngada

Di atas selembar kertas yang telah menguning—sebuah medium metafora bagi usangnya kontrak sosial kita di pelosok—sebuah pesan terakhir digoreskan dengan tangan mungil yang bergetar. “Kertas Tii Mama Reti,” demikian judul surat itu. YBS, seorang bocah kelas IV Sekolah Dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, menuliskan kata-kata pamit yang melankolis dalam bahasa Ngada. Yang lebih […]

Empat Hadiah Mahkamah Konstitusi bagi Kebebasan Pers

Hukum, dalam titik paling idealnya, seharusnya bekerja layaknya oksigen—tidak terlihat namun vital bagi napas kehidupan bersama. Namun, belakangan ini, ruang publik kita justru terasa sesak. Kita hidup dalam sebuah paradoks digital yang ganjil: di satu sisi, teknologi memberikan panggung seluas dunia bagi setiap suara, namun di sisi lain, ada kabut ketakutan yang kian menebal. Setiap […]

Mengapa Kita Masih Perlu Membaca Max Havelaar?

Hantu Lebak dan Metamorfosis Korupsi Di minggu pagi yang tenang dan sejuk paska hujan, saat aroma kopi  mulai memenuhi ruangan dan susunan rapi buku di rak perpustakaan rumah tampak seperti menara-menara kecil yang menanti untuk dipanjat, pagi ini  saya justru terjebak dalam sebuah “pertemuan” lama. Pertemuan  dengan sebuah teks yang telah berusia lebih dari satu […]

Mitos Efisiensi Pilkada

Bayangkan Anda adalah pemilik sah sebuah rumah besar, namun ketika tiba saatnya memilih siapa yang akan menjaga pintu depan, Anda justru diminta keluar dan hanya boleh mengintip dari balik jendela. Inilah perasaan “menjadi penonton di negeri sendiri” yang kini menghantui diskursus politik kita. Kita sedang dihadapkan pada sebuah paradoks: di satu sisi, biaya politik yang […]

Rambo dan Paradoks Kemanusiaan Amerika

Ada satu adegan dalam First Blood (1982) yang selalu menempel di ingatan: John Rambo, veteran perang Vietnam yang baru pulang ke negaranya, berjalan ke sebuah kota kecil di Oregon. Ia hanya ingin makan dan mencari teman lamanya sesama veteran, tetapi ditolak oleh polisi yang menganggapnya pengganggu. Rambo diseret, dihina, dipukul, hingga akhirnya meledak—bukan karena dendam, […]