Rambo dan Paradoks Kemanusiaan Amerika

Ada satu adegan dalam First Blood (1982) yang selalu menempel di ingatan: John Rambo, veteran perang Vietnam yang baru pulang ke negaranya, berjalan ke sebuah kota kecil di Oregon. Ia hanya ingin makan dan mencari teman lamanya sesama veteran, tetapi ditolak oleh polisi yang menganggapnya pengganggu. Rambo diseret, dihina, dipukul, hingga akhirnya meledak—bukan karena dendam, melainkan trauma yang tak tertahankan. “Nothing is over!” teriaknya di akhir film. Tak ada yang benar-benar berakhir bagi seseorang yang telah kehilangan makna hidup setelah perang.

Namun ada adegan lain yang justru menjadi kunci seluruh kisah. Rambo datang ke sebuah kawasan pedesaan untuk mencari teman lamanya, Delmar Barry—rekan satu unit di Vietnam. Ia membawa foto mereka berdua, masih muda dan tersenyum di depan jip militer. Tetapi ketika sampai di rumahnya, Rambo hanya bertemu ibu Delmar, seorang perempuan tua kulit hitam yang menatapnya dengan mata lelah. Dengan lirih, ia berkata bahwa Delmar sudah meninggal. Bukan di medan perang, tetapi karena kanker akibat paparan bahan kimia—Agent Orange—yang ironisnya digunakan oleh pasukan AS sendiri untuk memerangi Vietkong.
Rambo tak mampu berkata apa-apa. Ia hanya berbisik, “I didn’t know.” Lalu pergi, diam, dan sendirian lagi.

Adegan itu hanya dua menit, tanpa musik dan tanpa air mata, tapi di sanalah inti film ini berdenyut. Rambo bukan sekadar prajurit tangguh; ia adalah manusia yang kehilangan segalanya. Teman-temannya mati bukan karena musuh, tetapi karena kebijakan negaranya sendiri. Ia menjadi simbol kegagalan sistem yang mengorbankan manusia demi kehormatan nasional. Seperti dibahas oleh Sweeney (1999) dan Warner (2013), First Blood adalah potret Amerika yang dilanda rasa bersalah pascaperang Vietnam—sebuah bangsa yang ingin melupakan perang, tetapi dihantui oleh mereka yang pernah dikirim ke sana.

Di situlah letak keindahan tragis First Blood. Film ini sesungguhnya bukan tentang peluru dan ledakan, melainkan tentang luka batin yang dibiarkan membusuk oleh negara. Rambo, dalam film pertama, bukan simbol kekerasan, tetapi representasi kegagalan negara modern memperlakukan para veteran: kebijakan yang tahu bagaimana mengirim orang berperang, tapi tidak tahu bagaimana menyembuhkan mereka saat pulang. Ia adalah produk gagal dari negara kesejahteraan yang berubah menjadi negara perang.

Namun, seperti arah ekonomi yang bergeser karena tekanan politik, Rambo pun berubah wajah. Sekuel berikutnya, Rambo: First Blood Part II (1985), mengubah kisah duka itu menjadi panggung heroisme nasionalis. Rambo dikirim kembali ke Vietnam untuk “menebus” kekalahan Amerika. Ia bukan lagi korban, melainkan mesin pembebasan. Boggs & Pollard (2008) menyebut momen ini sebagai saat Hollywood mengubah trauma menjadi propaganda. Rambo bukan lagi manusia yang terluka, tetapi ikon kekuatan Amerika yang bangkit.

Pada masa itu, Amerika sedang dipimpin Ronald Reagan, dan layar lebar menjadi bagian dari politik luar negeri. Rambo II laris luar biasa—menghasilkan lebih dari US$300 juta di seluruh dunia—dan seolah membenarkan bahwa ideologi pun bisa dijual seperti produk. Ketika Rambo mengangkat senjata, yang ia tembak tidak lagi musuh, tetapi juga rasa malu nasional.

Rambo III (1988) melanjutkan arah itu. Kali ini Rambo membantu Mujahidin Afghanistan melawan Uni Soviet—ironis, karena dua dekade kemudian Amerika justru memerangi kelompok yang sama. Buys (2014) menyebut film ini sebagai simbol imperial heroism, produk khas era Perang Dingin ketika Hollywood menjadi alat diplomasi. Dari film yang dulu mengkritik negara, Rambo berubah menjadi perpanjangan tangannya.

Dua dekade kemudian, setelah tragedi 9/11 dan perang di Irak, Rambo kembali lewat Rambo (2008) dalam versi yang lebih muram. Kini ia hidup di Burma, membantu misionaris Kristen menyelamatkan warga sipil dari kekerasan junta militer. Ia lebih tua, lebih pendiam, dan lebih manusiawi. Film ini seperti ingin menebus dosa-dosa sekuelnya sendiri, mengembalikan fokus pada nilai kemanusiaan, meski tetap berselimut darah. Dalam kerangka cultural studies, ini menandai pergeseran dari euforia kekuasaan menuju refleksi moral.

Last Blood (2019) menutup kisahnya dengan nada getir. Kini Rambo berhadapan dengan kartel Meksiko yang menculik keponakannya. Ia menjadi prajurit tua yang terjebak dalam paranoia terhadap “yang asing.” Kritik sosialnya melebur dalam retorika keamanan perbatasan—citra Amerika era Donald Trump yang gelisah, nasionalistik, dan penuh dinding imajiner.

Jika dirunut, setiap film Rambo mencerminkan ideologi Amerika pada masanya. First Blood (1982) adalah masa introspeksi; Part II dan III (1985–1988) adalah masa euforia kekuasaan; Rambo (2008) adalah penyesalan; dan Last Blood (2019) adalah nostalgia yang pahit. Dari korban menjadi penebus, dari penebus menjadi penyerang, dan akhirnya menjadi manusia yang letih. Dalam bahasa ekonomi politik, Rambo berevolusi dari korban perang menjadi produk pasar ideologis.

Kapitalisme, seperti dicatat Warner (2013), punya kemampuan luar biasa: ia dapat menyerap kritik menjadi komoditas. First Blood, yang awalnya menegur sistem, justru melahirkan empat sekuel yang memperkuat sistem itu sendiri. Kaosnya dijual di pasar, gambarnya menghiasi iklan senjata dan permainan video. Kritik sosialnya dikomodifikasi—menjadi konsumsi, bukan refleksi. Kapitalisme, lagi-lagi, berhasil menelan pemberontakannya sendiri.

Namun di tengah siklus propaganda dan pasar itu, First Blood tetap layak dihormati. Ia menunjukkan bahwa patriotisme tanpa kemanusiaan hanyalah bentuk lain dari kekerasan. Ketika film lain di era yang sama—seperti Born on the Fourth of July (1989) karya Oliver Stone—menampilkan veteran lumpuh yang berjuang melawan ketidakadilan negaranya, First Blood memilih cara lain: menampilkan veteran yang membisu karena dunia telah menutup telinga. Keduanya berbicara hal serupa—bahwa kemenangan perang tidak selalu berarti kemenangan kemanusiaan.

Sebagai film, First Blood memenangkan Saturn Award untuk penyutradaraan terbaik (1983). Sementara Rambo II sempat dinominasikan untuk Academy Award di kategori teknis, tetapi juga menyapu Razzie Awards karena dianggap terlalu bombastis. Ironi itu memperlihatkan betapa industri budaya kerap memuja yang keras dan melupakan yang lembut.

Pada akhirnya, Rambo adalah paradoks: antara luka dan kebanggaan, antara kemanusiaan dan ideologi. Ia adalah wajah Amerika yang tak pernah selesai berdamai dengan dirinya sendiri. Dari film pertama yang getir hingga sekuel terakhir yang penuh amarah, Rambo menunjukkan bahwa di balik heroisme dan nasionalisme, selalu ada satu hal yang sama—rasa sepi seorang veteran yang hanya ingin diakui sebagai manusia.


Denny Septiviant, Penyuka Musik dan Film, Politisi PKB, Advokat dan analis kebijakan hukum-politik. Pendiri kantor hukum Shakra, Co.

Bagikan:

komentar