Dari “Rule of Law” ke “Rule by Autocracy”

RESENSI BUKU

Gramedia Jalma Semarang masih berbau baru. Toko buku yang dulu dikenal sebagai Gramedia Pandanaran kini lebih terang dan lapang; di sudutnya, mesin espresso menguarkan aroma kopi pada sore itu. Saya duduk di bangku baca, membuka halaman pertama Autocracy, Inc. karya Anne Applebaum. Di sekeliling saya, beberapa pengunjung asyik dengan ponsel—sunyi di luar, riuh di dalam layar. Saya tercenung: saya membaca tentang kengerian sistematis sementara keramaian toko justru sunyi di hati. Refleksi ini mengubah pemahaman saya: demokrasi kontemporer diancam bukan sekadar oleh satu diktator di puncak piramida, melainkan oleh jaringan autokrasi tanpa wajah yang meracuni ruang publik sekaligus merusak tiga dimensi keadilan.

Autokrasi abad kedua puluh satu lebih mirip perusahaan holding tanpa wajah. Applebaum (2024) menolak karikatur autokrasi lama; satu penguasa, polisi di bawahnya, segelintir pemberontak. Dunia memang tak seindah buku teks. Buku ini memetakan jaringan negara, perusahaan parastatal, oligark kleptokrat, kompleks keamanan, dan mesin propaganda yang saling terhubung lintas batas. Strukturnya bergerak dari ekonomi politik rent menuju rekayasa informasi, lalu transformasi tatanan internasional. Ideologi bukan perekat utamanya; transaksi dan untung bersama yang mengikat. Bab Greed That Binds dan Kleptocracy Metastasizes menelusuri bagaimana Venezuela menjalin hubungan dengan Iran, Rusia, China, Kuba, dan Turki lewat minyak, emas, penghindaran sanksi, dan perusahaan cangkang. Mungkin ia benar: autokrasi kini bukan blok, melainkan ekosistem berorientasi profit.

Jejaring autokrat meracuni ruang publik dengan merusak tindakan komunikatif. Membaca tesis ini, saya teringat Jurgen Habermas. Bagi Habermas (1989), demokrasi hanya mungkin jika ada kejujuran dalam komunikasi—warga berdiskusi rasional di ruang publik (Öffentlichkeit) dan mengawasi kekuasaan. Tanpa ruang publik yang berfungsi, demokrasi hanyalah prosedur tanpa jiwa. Namun Applebaum (2024) memperlihatkan bagaimana jejaring autokrat sengaja mengeruhkan sumur itu. Bab Controlling the Narrative menggambarkan RT, PressTV, dan CGTN sebagai pabrik klip yang menyebarkan satu pesan: demokrasi sama dengan kekacauan, autokrasi sama dengan ketertiban. Konspirasi “biolab Ukraina” atau gambar palsu “senjata cuaca” di Maui memperlihatkan ruang gema internasional. Jika ruang publik Habermas adalah alun-alun yang terang, autokrasi modern mengubahnya menjadi ruang penuh cermin yang retak: kita dibingungkan bukan oleh kurangnya informasi, melainkan banjir kebohongan yang dirancang rapi.

Autocracy, Inc. menggergaji ketiga kaki keadilan sekaligus. Saya juga teringat Nancy Fraser. Keadilan, bagi Fraser (2008), adalah kursi berkaki tiga: redistribusi, rekognisi, dan representasi. Kleptokrasi menjarah redistribusi; civil death bagi dissiden merampas rekognisi; forum BRICS dan SCO dengan prinsip non-intervensi mematikan representasi global. Bab Changing the Operating System menunjukkan pergeseran “perangkat lunak tatanan” dari bahasa pluralisme ke institusi paralel. Hukum internasional yang dulu menjanjikan harapan pascaperang kini digantikan rule by law—hukum yang memantulkan kehendak penguasa, bukan rule of law yang melindungi warga. Sebuah pasal undang-undang terkadang mirip bikini: memamerkan diksi hak asasi, namun menutupi bagian paling krusial, yakni bagaimana keadilan dieksekusi di lapangan.

Isu ini krusial bagi Indonesia. Ruang publik kita—yang sering bising oleh kecerewetan kelas menengah di media sosial—mulai rentan disusupi pola-pola yang digambarkan Applebaum (2024). Laporan makro kadang hanyalah cermin: ia memantulkan angka indah, sementara kelas menengah bawah di belakang layar “makan tabungan”. Ketika kebutuhan dasar terpenuhi, kelas menengah menjadi cerewet: ia mencari rekognisi, ingin dihormati, menolak menjadi statistik dalam narasi kemajuan. Itulah Chilean Paradox: ekonomi tumbuh, rakyat merasa tidak diwakili—seperti di Santiago 2019, ketika kenaikan tarif metro hanyalah pemicu; akar masalahnya adalah ketiadaan representasi. Tanpa rekognisi, pertumbuhan ekonomi hanyalah kemajuan yang hampa jiwa.

Mempertahankan demokrasi di tengah gempuran ini adalah risalah tentang situasi yang serba salah. Kita butuh keterbukaan ekonomi, namun jejaring autokrasi masuk lewat celah pasar modal, perusahaan cangkang, real estat, dan platform digital. Sanksi saja tidak cukup ketika perantara di dalam demokrasi—bank, pengacara, konsultan—ikut memutar siklus rent. Meskipun demikian, para skeptis mungkin menyangkal urgensi teori jaringan ini: Applebaum (2024) sendiri mengakui konsep “jaringan” belum diukur dengan metrik sentralitas atau aliran keuangan yang presisi. Namun justru di situlah nilainya bagi pembaca Indonesia: ia memberi bahasa untuk menyebut apa yang kita rasakan. The law of the possible menuntut kita choose the lesser of two evils: transparansi beneficial ownership, standar anti-information laundering, kontrol ekspor komponen dual-use, serta perlindungan terarah bagi masyarakat sipil. Reformasi ini bukan solusi sempurna, melainkan stimulus tanpa biaya fiskal yang paling mendesak—seperti melonggarkan jalan, bukan sekadar menambah bensin regulasi.

Demokrasi bukan sekadar angka di kertas suara. Camus pernah menulis bahwa kebodohan adalah hal yang paling membuat kita marah. Mungkin benar, kata Kundera, sejarah punya selera humor pahit. Hukum, pada akhirnya, harus mampu berumah di kehidupan sehari-hari—hadir dalam napas tiap orang yang menuntut haknya di pinggir jalan sejarah. Demokrasi harus berumah di ruang publik yang jujur, bukan di sumur yang telah diracuni. Kita tak punya kemewahan menyerah: membiarkan cahaya redup, atau terus menjaganya agar tetap menyala.

(Denny Septiviant, Politisi, Advokat dan analis kebijakan hukum-politik. Pendiri kantor hukum Shakra, Co. )


Judul Buku: Autocracy, Inc.: The Dictators Who Want to Run the World

Nama Penulis: Anne Applebaum

Penerbit: Doubleday (anak perusahaan Penguin Random House)

Tahun Terbit: 2024

Tentang Penulis Buku: Anne Elizabeth Applebaum (lahir 25 Juli 1964) adalah jurnalis dan sejarawan asal Amerika Serikat yang menjadi warga negara Polandia sejak 2013. Ia lulus dari Yale University, kemudian menjadi Marshall Scholar di London School of Economics dan St Antony’s College, Oxford.

Karier jurnalistiknya dimulai sebagai koresponden luar negeri The Economist dan The Independent, ketika ia meliput runtuhnya Tembok Berlin dan kolaps komunisme di Eropa Timur. Ia pernah menjabat redaktur politik Evening Standard, deputy editor The Spectator, anggota dewan redaksi The Washington Post (2002–2006), dan kini menjadi staff writer The Atlantic.

Sebagai penulis buku, Applebaum dikenal lewat Gulag: A History (2003) yang memenangkan Pulitzer Prize untuk Nonfiksi Umum (2004); Iron Curtain: The Crushing of Eastern Europe (2012); Red Famine: Stalin’s War on Ukraine (2017); dan Twilight of Democracy: The Seductive Lure of Authoritarianism (2020) yang menjadi bestseller New York Times. Autocracy, Inc.: The Dictators Who Want to Run the World (2024), diterbitkan Doubleday/Penguin Random House, melanjutkan sorotannya atas autokrasi kontemporer.

Ia menjadi senior fellow di SNF Agora Institute dan School of Advanced International Studies, Johns Hopkins University, serta memimpin proyek penelitian ARENA tentang disinformasi dan propaganda abad ke-21. Sejak 2021, Applebaum menjadi anggota Pulitzer Prize Board. Pada 2024, ia menerima Peace Prize of the German Book Trade (Friedenspreis des Deutschen Buchhandels).

Bagikan:

komentar