Bagi seorang bocah kelas satu SMA di Wonosobo pada September 1991, Los Angeles barangkali terletak di galaksi lain. Kota kami berhawa dingin, tenang, dan dilingkari kabut tebal Gunung Sindoro serta Sumbing, sebuah tempat di mana waktu berjalan lambat seperti siput yang enggan tergesa. Di sana -waktu itu- kegaduhan global nyaris tak pernah mampir, kecuali jika Anda punya cukup tekad untuk berburu informasi.
Namun, dunia luar punya caranya sendiri untuk menyusup. Tepat 17 September 1991, sebuah band bengal asal Sunset Strip bernama Guns N’ Roses memutuskan untuk menggelar aksi megalomania paling gila dalam sejarah rock: merilis dua album penuh secara serentak, Use Your Illusion I dan II. Tiga puluh repertoar lagu dilepas sekaligus tanpa ampun. Bagi industri musik dunia, itu manuver bisnis yang mencengangkan. Namun bagi kantong seorang pelajar SMA kelas kabupaten, itu deklarasi krisis moneter skala pelajar.
Masa itu, informasi bukan komoditas murah yang meluncur deras di genggaman tangan. Kami harus memburunya seperti pemburu purba melacak jejak binatang langka. Wonosobo tak punya pemancar radio canggih yang memutar tren musik mutakhir. Alhasil, kami mengandalkan radio tape compo dengan antena kawat meliuk-liuk, berharap menangkap remah-remah frekuensi radio FM yang tertiup angin dari arah Jogjakarta, Purwokerto, kadang Semarang atau menembus celah bukit Magelang.
Mendengarkan intro piano November Rain atau raungan parau Axl Rose dalam You Could Be Mine di antara desis statis radio adalah latihan spiritual tersendiri. Radio digeser-geser, antena diputar, kepala dimiringkan, napas ditahan, seolah tarikan napas yang terlalu keras bisa membuyarkan gelombang udara yang ringkih itu. You Could Be Mine sendiri sebelumnya diluncurkan pada Juni 1991 sebagai single soundtrack film science fiction Terminator 2: Judgment Day yang dibintangi Arnold Schwarzenegger.
Bersama itu pula datanglah keajaiban teknologi: antena parabola. Piringan seng raksasa di halaman rumah yang kerap harus diputar dengan perjuangan fisik demi membujuk satelit menangkap siaran televisi komersil. Di kampung kami, itu diselenggarakan secara gotong royong untuk menjangkau beberapa rumah. Momen menatap MTV Asia di televisi tabung cembung saat video klip Don’t Cry tayang rasanya seperti tersengat listrik sepuluh ribu volt. Melihat Slash berdiri telanjang dada di tepi tebing curam, meliuk bersama gitarnya sementara angin mengibaskan rambut keritingnya yang legendaris, adalah definisi kemegahan teatrikal yang membuat lanskap pegunungan di sekitar kami mendadak terasa absurd.
Kekaguman itu segera menabrak realitas ekonomi yang kejam. Membeli Use Your Illusion bukan perkara melangkah santai ke toko kaset. Ini double album: sampul merah-kuning untuk Volume I dan biru-ungu untuk Volume II. Harganya menuntut sebuah reformasi anggaran yang kelewat ekstrem: menahan nafsu makan siang, mencoret pos jajan mie ongklok dan ngirit tempe kemul selama berminggu-minggu, dan membiarkan perut berbunyi demi celengan kaleng yang beratnya tak seberapa.
Masalah belum selesai begitu uang terkumpul. Toko kaset Santiaji di kota kecil kami tak ubahnya pos terdepan yang terabaikan dalam rantai pasok nasional. Album baru harus melalui sistem inden, dimana kaset harus menempuh perjalanan mistis lewat paket bagasi travel antarkota dari Semarang, Purwokerto atau Yogyakarta.
Hampir tiap pulang sekolah, dengan seragam putih abu-abu yang sudah lusuh, saya mampir ke etalase toko kaset Santiaji. Penjaganya sampai hafal wajah memelas saya, sehingga hanya perlu melempar senyum getir sambil berucap kalimat yang rasanya lebih menyakitkan daripada putus cinta: “Belum turun dari travel, Coba minggu depan.”
Ketika dua keping kaset itu akhirnya berpindah ke tangan, euforianya tak tertandingi. Membuka segel plastik mika, menghirup aroma kertas inlay yang masih perawan seperti menghirup udara surga, lalu membiarkan pita magnetik berputar di dalam walkman bertenaga baterai yang sudah dijemur berkali-kali demi menghemat daya.
Tentu saja, kami saat itu tak menyadari ironi sejarah yang sedang berlangsung. Use Your Illusion adalah puncak karnaval dari stadium rock 80-an: produksi megah, orkestra yang melimpah, dan ego musisi yang membengkak seukuran stadion maraton. Setelah masuk dalam peringkat 1 untuk Use Your Illusion 2 dan peringkat 2 Use Your Illusion 1 dalam Billboard Top 200, hanya berselang seminggu kemudian, Nirvana melempar Nevermind ke pasar yang langsung melesat ke peringkat 1 Billboard Top 200. Dan seluruh bangunan megah rock arena itu seketika runtuh diterjang distorsi punk anak-anak lusuh dari Seattle. Pesta usai tepat saat puncaknya.
Namun, bagi saya yang duduk termangu di kaki Sindoro tiga dekade silam, semua kalkulasi sosiologis itu tak penting. Album itu adalah tugu peringatan tentang masa muda: tentang lapar yang ditahan berhari-hari demi dua kotak plastik, tentang radio yang setia disetel di antara derau frekwensi, dan tentang bagaimana sebuah ilusi dari belahan bumi lain sanggup membuat hidup di kota kecil terasa begitu kaya.
Denny Septiviant, Politisi PKB, Advokat dan analis kebijakan hukum-politik. Pendiri kantor hukum Shakra, Co., Penggemar musik Rock.