“Here I Go Again”: Sebuah Dedikasi untuk John Sykes

“Here I Go Again on my own, going down the only road I’ve ever known.” Kalimat itu menyelinap, seperti langkah kecil di jalan panjang yang sunyi. Whitesnake (1987) mungkin telah membekaskan lirik itu pada benak banyak penggemar rock, tetapi bagi saya, ada sesuatu yang lebih mendalam: suara gitar yang mengiris hati di bawah lirik itu, dimainkan dengan emosi oleh John Sykes. Suaranya seperti doa yang diucapkan dengan notasi; sebuah perjalanan yang tak pernah selesai.

Berita kepergiannya beberapa hari lalu membawa duka yang melintasi generasi. John Sykes, 65 tahun, telah berpulang setelah melawan kanker yang selama ini ia hadapi dengan keberanian. Tapi seperti seorang pejalan sunyi, ia meninggalkan jejak yang abadi. Musiknya, seperti nafas yang tidak habis, terus mengalir di antara mereka yang mendengar dan merasakan.

Tygers of Pan Tang Hingga Blue Murder

John Sykes memulai perjalanannya dalam dunia musik bersama Tygers of Pan Tang, sebuah nama besar dalam gelombang NWOBHM (New Wave of British Heavy Metal) pada awal 1980-an. Dalam album Spellbound dan Crazy Nights, Sykes melukis garis pertamanya: riff-riff tajam yang penuh amarah muda, dan solo yang seperti angin—melodius, tetapi memotong dengan ketepatan.

Di lagu seperti “Gangland” dan “Hellbound”, kita mendengar seorang gitaris muda yang sedang menyusun narasinya sendiri. Ia pernah mencoba mengikuti audisi untuk band Ozzy Osbourne, tetapi gagal. Namun, kegagalan itu menjadi pintu untuk sesuatu yang lebih besar: Thin Lizzy.

Ketika Sykes bergabung dengan Thin Lizzy pada 1982, band ini seperti senja yang hampir padam. Tetapi album Thunder and Lightning menjadi bukti bagaimana ia meniupkan energi baru. “Cold Sweat”, dengan riff yang keras dan solo yang seperti ledakan, adalah salah satu warisannya. Phil Lynott, sang frontman, pernah berkata, “John has this fire in him. He’s young, he’s aggressive, and he’s brilliant.” (Classic Rock Magazine, 1983).

Namun, Thin Lizzy adalah babak yang singkat. Lynott berharap lebih banyak kolaborasi dengan Sykes, tetapi takdir berkata lain. John Sykes memilih jalan baru, membawa apinya ke Whitesnake.

– WHITESNAKE ERA –

Bersama Whitesnake, Sykes menciptakan mahakarya. Album Whitesnake (1987) adalah puncak gunung dalam perjalanan rock 80-an. “Still of the Night”, dengan riff Zeppelin-esque yang megah, dan “Here I Go Again”, balada yang menjadi anthem perpisahan banyak hati, adalah pernyataan bahwa John Sykes adalah seorang maestro.

Namun, seperti banyak kisah besar, ada ironi yang melilitnya. Konfliknya dengan David Coverdale membuatnya pergi sebelum album itu dirilis. “It was disappointing not being part of the tour, but the music speaks for itself,” katanya dalam sebuah wawancara dengan Guitar World di tahun 1988. Dan memang benar, musik itu terjual jutaan kopi, meski Sykes sudah berada di tempat lain.

– BLUE MURDER –

Setelah Whitesnake, Sykes membentuk Blue Murder. Jika Whitesnake adalah karya publiknya, maka Blue Murder adalah simfoni pribadinya. Di album debut Blue Murder (1989), ia menunjukkan kebebasan penuh. “Valley of the Kings” berbicara dengan skala yang epik, “Jelly Roll” menawarkan kehangatan blues, sementara “Ptolemy” adalah labirin teknikal yang mengagumkan.

Dalam sebuah wawancara dengan Blabbermouth.net di tahun 2014, Tony Franklin, rekan bassist-nya, pernah berkata, “John’s vision for this band was clear: take rock to a grander scale. And I think we did that.”. Meski tidak sekomersial Whitesnake, Blue Murder adalah tempat di mana Sykes menunjukkan dirinya sepenuhnya.

Sykes kemudian memasuki fase baru, di mana ia berbicara lebih lirih tetapi tidak kurang bertenaga. Album seperti Out of My Tree dan Loveland menunjukkan sisi personalnya. Ada lagu-lagu seperti “I Don’t Wanna Live My Life Like You”, dengan riff yang tajam tetapi penuh makna, dan “Don’t Hurt Me This Way”, balada yang terasa seperti percakapan antara hati dan gitar.

Sykes sempat mengikuti audisi untuk Guns N’ Roses pada 2009, tetapi tidak berhasil. Meski demikian, ia tetap berkarya hingga tahun-tahun terakhirnya, menciptakan materi solo yang, meski tidak dirilis sepenuhnya, tetap menjadi bagian dari perjalanan kreatifnya.

Obituari

John Sykes adalah gitaris yang berbicara dengan nada, bukan kata. Di masa-masa akhirnya, keluarganya mengenang dia sebagai sosok yang karismatik, penyayang, dan penuh rasa syukur. “Di hari-hari terakhirnya, ia berbicara tentang cinta dan rasa syukurnya yang tulus kepada para penggemarnya,” tulis keluarganya dalam sebuah pernyataan di account Instagram-nya. Mereka menutup dengan kata-kata yang indah, “Cahaya kenangannya akan memadamkan bayang-bayang ketidakhadirannya.”

Bagi generasi seperti saya, Sykes bukan hanya legenda. Ia adalah suara dari perjalanan yang tak pernah berhenti, seperti riff yang terus bergema, menyentuh hati bahkan setelah pemainnya telah pergi. Ketika “Here I Go Again” mengalun, kita tidak hanya mendengar melodi; kita mendengar sebuah kehidupan yang diceritakan dalam harmoni. Dan untuk itu, Sykes akan selalu hidup.

Bagikan:

komentar