Blood Diamond dan Bencana Kita

Ada film yang membuat kita menahan napas. Ada pula film yang membuat kita berpikir lama setelah kredit penutupnya usai. Blood Diamond (2006) berada tepat di titik perpotongan itu—menawarkan ketegangan, tetapi juga banyak pertanyaan yang pelan-pelan mengganggu ketenangan kita. Pertanyaan yang muncul bukan karena cerita fiksinya, melainkan karena apa yang digambarkannya terasa terlalu akrab.

Film yang dibintangi Leonardo DiCaprio dan Djimon Hounsou ini mengambil latar Sierra Leone pada masa perang saudara. Sebuah negara yang dikoyak oleh kekayaan alamnya sendiri: berlian. Benda kecil, berkilau, tetapi mampu menggerakkan rantai kekerasan yang panjang—dari kamp pemberontak, tentara pemerintah, penyelundup, prajurit anak, kerja paksa, sampai korporasi internasional yang memolesnya menjadi perhiasan mewah.

Namun, semakin sering film itu diputar ulang dalam ingatan, semakin terasa bahwa ia sedang berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih besar daripada perang di Afrika Barat. Ia berbicara tentang logika ekstraksi: cara sebuah negara memperlakukan sumber dayanya, serta cara kekuasaan dan pasar global mengambil bagian dalam gerakannya.

Dan entah mengapa, setiap kali membaca berita banjir besar di Sumatra saat ini, longsor yang menutup desa, atau ribuan warga mengungsi, film itu kembali muncul seperti alarm yang tidak pernah berhenti berbunyi.

Kekayaan Alam yang Menjadi Kutukan

Blood Diamond dimulai dengan satu adegan yang sederhana: seorang nelayan bernama Solomon Vandy dipaksa bekerja di tambang ilegal yang dikendalikan pemberontak. Dalam satu benturan nasib, ia menemukan sebuah berlian merah muda yang sangat langka—batu yang kemudian mengubah seluruh alur cerita.

Berlian itu bukan sekadar batu berharga; ia adalah simbol dari apa yang disebut banyak peneliti sebagai resource curse atau kutukan sumber daya. Sebuah paradoks yang tampak ironis: negara kaya sumber daya justru rentan miskin, korup, atau berkonflik.

Daron Acemoglu dan James A. Robinson dalam Why Nations Fail merumuskannya lebih lugas, “Kekayaan alam bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah institusi yang membiarkan kekuasaan mengekstraksi kekayaan itu tanpa akuntabilitas.”

Kalimat ini terasa menjelaskan seluruh alur Blood Diamond dalam satu tarikan napas. Negara gagal bukan karena tidak punya emas, batubara, nikel, atau batu mulia. Negara gagal karena permainan di belakang layar mengizinkan sekelompok kecil elite memetik untung sementara warga menanggung risikonya.

Dan jika kita jujur, pola itu terasa tidak asing di Indonesia.

Film Menjadi Cermin

Transisi dari Sierra Leone ke Indonesia mungkin terdengar jauh, tetapi jarak itu cepat terpotong ketika kita melihat lanskap bencana ekologis yang berulang di tanah air.

Sumatra, misalnya. Dalam dua dekade terakhir, provinsi-provinsinya mengalami penyusutan hutan yang konsisten—baik untuk ekspansi sawit, tambang, maupun infrastruktur. Hutan-hutan yang dulu menjadi penyangga air kini berubah menjadi permukaan kedap yang rentan longsor. Sungai-sungai dipersempit oleh sedimen tambang, penanaman monokultur, dan permukiman tumbuh tanpa kendali di bantaran. Ketika hujan ekstrem turun, seluruh kombinasi itu berkumpul menjadi bencana. Desa hanyut, ribuan rumah terendam, dan puluhan ribu warga terputus aksesnya.

Di tengah semua itu, narasi yang muncul sering kali masih sama: “alam sedang marah”, “fenomena cuaca ekstrem”, atau “perubahan iklim”. Padahal, seperti Blood Diamond ajarkan dengan brutal, kekacauan jarang datang dari langit. Ia lahir dari serangkaian keputusan manusia—baik yang dibuat secara terang-terangan, maupun yang ditandatangani diam-diam di balik meja panjang rapat-rapat perizinan.

Dengan kata lain: bukan alam yang berubah sendirian; kita ikut membangun jalan menuju bencana itu.

Danny Archer dan Wajah-Wajah yang Kita Kenal

Dalam film, Danny Archer—mantan tentara bayaran Rhodesia (sekarang: Zimbabwe) yang menjadi penyelundup berlian—bukanlah penjahat klasik. Ia oportunis, cerdik, berbahaya, tetapi juga produk dari sistem yang mengajarinya bertahan dengan cara yang salah. Ia hidup di ruang abu-abu regulasi, di mana hukum mengendur dan moralitas mudah dinegosiasikan.

Kita mungkin tidak memiliki sosok seperti Archer di sekitar kita. Tetapi kita mengenal peran-peran serupa: broker perizinan, aktor-aktor lokal yang menjadi perantara korporasi besar, atau pejabat yang punya wewenang menentukan garis batas kawasan hutan hanya dengan satu tanda tangan.

Di sisi lain, Solomon Vandy mencerminkan banyak warga di daerah-daerah rawan bencana: mereka yang hidupnya berubah oleh keputusan yang tidak pernah mereka ikut buat. Mereka yang rumahnya terbawa banjir, sawahnya tertimbun longsor, atau yang harus mencari air bersih karena sungai di dekatnya keruh oleh limpasan tambang.

Peran-peran ini bukan hanya ada dalam sinema; ia hidup di banyak daerah di Indonesia.
Dan justru karena itu, Blood Diamond terasa seperti cerita yang, meski mengambil latar jauh, seolah sedang berbicara langsung kepada kita.

Transisi ke Realitas

Salah satu kekuatan Blood Diamond adalah kemampuannya menggabungkan aksi cepat dengan kritik struktural yang perlahan meresap. Kita menyaksikan tembak-menembak, pelarian dramatis, dan dialog intens. Tetapi secara bertahap, film itu menuntun kita pada kesadaran yang lebih dalam: sumber bencana tidak berada pada satu orang, melainkan pada sistem yang memungkinkan eksploitasi terus berjalan.

Begitu pula dengan bencana ekologis. Banjir besar atau longsor bukan hanya akibat curah hujan tinggi, tetapi hasil akumulasi dari: tata ruang yang longgar, perencanaan yang menutup mata pada risiko, lemahnya penegakan hukum lingkungan, serta orientasi pembangunan yang terlalu fokus pada eksploitasi sumber daya.

Acemoglu dan Robinson menyebutnya extractive institutions: sistem yang membolehkan kekayaan alam dikelola untuk keuntungan segelintir orang. Selama institusi tidak berubah, bencana akan hadir sebagai pola, bukan kejadian.

Dan pola itu, sayangnya, sudah terlalu lama kita kenali.

Ada satu adegan ikonik dalam film ini. Archer dan Solomon berdiri di dataran tinggi, memandang lembah yang dihancurkan operasi tambang ilegal. Debu beterbangan, pohon-pohon hilang, dan tanah terkelupas seperti kulit yang luka.

Archer berkata, “Kadang dunia tidak ingin tahu dari mana sesuatu berasal.”

Kalimat itu, jika dibawa ke konteks Indonesia, terasa seperti tamparan halus. Kita menikmati listrik yang murah, ponsel yang cerdas, infrastruktur yang maju, dan komoditas yang menggerakkan ekonomi. Tetapi jarang bertanya: berapa hutan yang dibuka untuk itu? berapa sungai yang dialihkan? berapa kampung yang direlokasi? berapa warga yang kehilangan tanah?

Blood Diamond mengajak kita untuk melihat bahwa biaya kemajuan tidak pernah nol. Ada jejak ekologis dan sosial yang sering kita biarkan tersembunyi, seperti berlian yang bersinar tanpa menceritakan darah yang menempeli kilauannya.

Ending yang Tidak Sepenuhnya Happy Ending

Di akhir film, kebenaran akhirnya muncul ke permukaan. Berlian konflik terungkap, dan konferensi internasional diadakan untuk mengatur perdagangan berlian dunia. Tetapi kita tahu, di dunia nyata, satu kebijakan global tidak serta-merta menghapus kerusakan puluhan tahun.

Indonesia sebenarnya punya posisi yang lebih baik daripada Sierra Leone. Kita memiliki kemampuan teknokratis, kerangka regulasi, dan pengalaman panjang dalam tata kelola sumber daya. Tetapi semua itu tidak akan cukup jika institusi tetap memberi ruang bagi praktik-praktik ekstraktif tanpa rem.

Acemoglu dan Robinson memberikan pengingat yang relevan: “Ketika institusi inklusif diperkuat, sumber daya jadi berkah. Ketika institusi membiarkan ekstraksi tanpa batas, kekayaan berubah menjadi bencana.”

Pelajaran ini terasa sangat dekat ketika kita melihat banjir Sumatra, deforestasi Kalimantan dan Papua, atau krisis air dan banjir rob di Jawa.

Pada akhirnya, Blood Diamond adalah film aksi yang bisa ditonton sambil makan siang atau ngopi sore. Tetapi jika kita membiarkan cerita itu tinggal sedikit lebih lama di kepala, ia pelan-pelan berubah menjadi undangan untuk bercermin.

Bahwa bencana tidak selalu datang sebagai takdir. Bahwa pembangunan tanpa rem bukan tanda kemajuan, melainkan tanda kita sedang mengorbankan masa depan. Dan bahwa sumber daya alam bukan hanya komoditas, tetapi fondasi kehidupan yang harus dijaga.

Mungkin pertanyaan yang perlu kita bawa pulang setelah film ini sederhana saja:

Apakah kita ingin Indonesia yang bersinar karena diekstraksi, atau Indonesia yang kuat karena dijaga?

Pertanyaan itu, meski lahir dari film, terasa seperti kompas kecil yang layak kita simpan—setidaknya sampai menu makan siang berikutnya tiba.


Denny Septiviant, Politisi PKB, Advokat dan analis kebijakan hukum-politik. Pendiri kantor hukum Shakra, Co.

Bagikan:

komentar