Membaca Straight Outta Compton sebagai Catatan Sosial

Film Straight Outta Compton (2015) pada dasarnya bercerita sederhana. Ia mengisahkan perjalanan lima anak muda dari Compton, California—Dr. Dre, Ice Cube, Eazy-E, MC Ren, dan DJ Yella—yang membentuk grup rap bernama N.W.A. Dari studio kecil dan jalanan yang keras, mereka menembus industri musik Amerika, memicu kontroversi nasional, dan mengubah lanskap hip-hop secara drastis. Namun, seperti […]

Blood Diamond dan Bencana Kita

Ada film yang membuat kita menahan napas. Ada pula film yang membuat kita berpikir lama setelah kredit penutupnya usai. Blood Diamond (2006) berada tepat di titik perpotongan itu—menawarkan ketegangan, tetapi juga banyak pertanyaan yang pelan-pelan mengganggu ketenangan kita. Pertanyaan yang muncul bukan karena cerita fiksinya, melainkan karena apa yang digambarkannya terasa terlalu akrab. Film yang […]

Tambang Ormas dan Kekeliruan Negara

Ada satu adegan dalam Blood Diamond (2006) yang selalu kembali dalam ingatan saya setiap kali membaca polemik pemberian konsesi tambang kepada organisasi keagamaan. Solomon Vandy, seorang nelayan yang dipaksa menjadi penambang di tengah perang saudara Sierra Leone, menemukan berlian merah muda yang nilainya tak terbayangkan. Tetapi batu kecil itu pula yang memicu kekerasan, pengkhianatan, dan […]

34 Tahun Achtung Baby: Blueprint Bertahan di Era Disrupsi

34 tahun bukan hanya angka di kalender—ia seperti cermin yang memaksa kita menatap ulang siapa diri kita. Minggu lalu, tepatnya 18 November 2025- Achtung Baby memasuki usia itu. Terlambat merayakan? Tidak apa. Beberapa karya justru lebih nikmat ketika dibaca sambil menyeruput teh oplos Blontea yang mulai dingin. Dan U2, dalam album 1991 ini, mengajarkan satu […]

KUHAP Baru dan Senjakala Partisipasi Bermakna

Beberapa hari setelah RUU KUHAP disahkan, yang tersisa bukan perasaan lega bahwa negara akhirnya memperbarui hukum acara pidananya, tetapi kegelisahan. Publik justru mendengar kritik keras dari organisasi masyarakat sipil, akademisi, hingga komunitas bantuan hukum. Bukan semata karena pasal-pasal yang dinilai terlalu melebar, tetapi karena proses pembahasan yang berlangsung cepat—terlalu cepat untuk ukuran sebuah regulasi yang […]

Fragile: Saat Rock Menemukan Bahasa Barunya

Saya mengenal progressive rock justru bukan dari lagu-lagu rumit yang sering disebut “nggak semua orang bisa nikmatin”, tapi dari satu komposisi Yes yang agak nge-pop: Owner of the Lonely Heart. Dari situ, rasa penasaran membawa saya ke masa-masa awal band ini—ke album Fragile (1971)—dan semuanya berubah. Di titik itu saya sadar, rock bisa lebih dari […]

Membaca Pesantren di Bawah Bayang Orientalisme 2.0

Beberapa waktu terakhir, linimasa media sosial penuh dengan gelombang kritik -bahkan penghinaan- terhadap dunia pesantren. Sebagian netizen SJW -yang tampil seolah progresif- menuding tradisi pesantren sebagai praktik feodalisme yang menindas. Ro’an disebut perbudakan, ta’dhim dianggap bentuk kepatuhan buta, ta’zir dianggap melanggar HAM, bahkan penghormatan terhadap kiai disamakan dengan relasi tuan dan hamba. Kritik ini diamplifikasi […]

MEMBELA PESANTREN DARI MEDIA NIR-ADAB

Republik ini berdiri di atas nilai, bukan semata di atas kertas perjanjian politik belaka. Di antara nilai-nilai itu, pesantren menempati tempat istimewa: lembaga yang melahirkan manusia beriman, berilmu, dan berakhlak. Negara telah mengakui peran itu secara resmi melalui Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren. Dalam Pasal 1 ayat (1), pesantren disebut sebagai lembaga berbasis […]

The Year of Living Dangerously: Saat Film Hollywood Membaca Ulang Tragedi 1965

“Selalu ada hati nurani yang menuntut kita melihat manusia di balik berita besar.” Kalimat itu terasa sederhana, namun menjadi inti mengapa The Year of Living Dangerously (1982) karya Peter Weir masih pantas dibicarakan hari ini. Film ini sering dianggap sebagai tontonan Barat yang sekadar “mencuri” tragedi Indonesia untuk dikemas sebagai hiburan internasional. Tetapi bila kita […]

Paradoks Politik Generasi Z

Generasi Z sedang berada di pusat pusaran politik Indonesia. Survei Indikator Politik Indonesia pada Januari 2025 mencatat, 81,7 persen Gen Z puas terhadap kinerja 100 hari pertama Presiden Prabowo Subianto—lebih tinggi dibanding milenial (80,7 persen), Gen X (78,8 persen), maupun baby boomers (73,4 persen). Mereka adalah basis elektoral yang mengantarkan kemenangan di Pemilu 2024. Namun, […]