Ada yang ganjil namun terasa familiar saat menyaksikan film The Company You Keep (2012), besutan Robert Redford. Bukan sekadar thriller politik biasa, film ini membuka kembali lembaran luka sejarah aktivisme radikal di Amerika Serikat, namun dengan lensa yang manusiawi: apa yang terjadi pada para pemberontak ketika idealisme mereka terbang bersama debu-debu revolusi yang gagal?
Robert Redford dan Sinema Sebagai Ingatan Politik
Di balik layar The Company You Keep, ada sosok Robert Redford yang bukan sekadar aktor kawakan atau sutradara kawruh. Ia adalah seorang peziarah di persimpangan antara seni, politik, dan etika. Sejak mendirikan Sundance Institute pada awal 1980-an, Redford telah memantapkan dirinya sebagai kurator cerita-cerita yang tak mendapat tempat dalam keriuhan Hollywood: kisah tentang ketidakadilan yang membatu, suara-suara pinggiran yang bersikeras hidup, dan luka-luka sejarah yang menolak disembuhkan oleh lupa.
Dalam wawancara dengan The Hollywood Reporter, Redford mengatakan, “I was drawn to this story because it dealt with the legacy of the ’60s — a time when we believed in something and were willing to put ourselves on the line. I wanted to explore what happens when the cost of that belief carries over into the next generation.”
Redford memang dikenal sebagai sosok liberal yang progresif. Ia pernah secara terbuka mengkritik kebijakan luar negeri Amerika Serikat dan kerap terlibat dalam proyek film yang mengangkat isu sosial-politik, seperti All the President’s Men dan Lions for Lambs. Baginya, sinema bukan hanya hiburan, melainkan alat perenungan dan penantang status quo.
Maka bukan kebetulan jika ia memilih The Company You Keep untuk disutradarai sekaligus dibintangi. Film ini adalah gema dari masa lalu yang tak pernah benar-benar mati—tentang idealisme yang tumbuh di jalanan, retak dalam kekerasan, dan membeku dalam pelarian. Redford, yang tumbuh dan bersinar di tengah kegaduhan Amerika pasca-Vietnam, tampaknya ingin mengajak kita menyelami kembali sebuah pertanyaan mendasar: apa jadinya jika negara menuliskan sejarah hanya dari sudut pandang pemenang?
Lewat karakter Jim Grant, Redford seakan berbicara langsung pada kita—generasi yang lelah, generasi yang kadang sinis terhadap utopia. Ia tak hendak membela kekerasan, tapi juga tak sudi menghakimi tanpa mengingat konteks. Di tangan Redford, The Company You Keep bukan sekadar thriller politik, melainkan elegi bagi generasi yang pernah mencoba mengguncang dunia, dan kini harus bertanya: apakah yang tersisa dari perjuangan itu hanyalah nama di daftar buronan?
Saya ingat betul bagaimana selepas reformasi, ruang-ruang diskusi bermunculan di kampus, di warung kopi, hingga di rumah-rumah baca pinggiran kota. Kami berbicara tentang perubahan, tentang negara yang harus tunduk pada rakyat, bukan sebaliknya. Namun dua dekade berlalu, saya melihat semangat itu mulai digerogoti oleh sinisme dan pragmatisme. Aktivis lama banyak yang ‘berdamai’ dengan sistem, sebagian tersingkir dalam sunyi. Kisah Jim Grant dalam The Company You Keep seperti cermin dari apa yang juga kita alami di sini—ideal-ideal besar yang perlahan dikalahkan oleh kompromi.
Jim Grant (Redford), seorang pengacara terhormat, menyimpan masa lalu yang tak bisa ditebus: ia adalah mantan anggota kelompok radikal Weather Underground yang menjadi buronan selama lebih dari tiga dekade. Ketika seorang rekannya ditangkap FBI, kehidupan nyaman Grant hancur. Ia melarikan diri bukan hanya dari hukum, tapi dari masa lalu yang terus menghantuinya. Dalam pelariannya, ia mencoba membersihkan namanya—bukan demi dirinya sendiri, tapi demi anaknya.
Film ini memang fiksi. Tapi sejarah yang digambarkannya bukanlah karangan semata. Weather Underground Organization (WUO) adalah kelompok nyata yang muncul di era 1960-an, lahir dari kekecewaan terhadap imperialisme Amerika, Perang Vietnam, dan diskriminasi rasial. Mereka memilih jalur kekerasan sebagai bentuk perlawanan, termasuk pemboman gedung federal, meskipun mereka mengklaim tidak ingin melukai siapa pun. Sebagian dari mereka menghilang ke dalam bayang-bayang identitas palsu, hidup dalam pelarian, dan membangun kehidupan baru—seperti Jim Grant dalam film.
Catatan Kritis dan Refleksi
Film ini mendapat beragam respons dari kritikus. Roger Ebert memberi tiga dari empat bintang dan menyebutnya sebagai “a thoughtful thriller, rich in moral and political complexity.” Sementara itu, A.O. Scott dari The New York Times menyoroti kekuatan karakter dan lapisan emosional dalam cerita, meskipun menganggap alurnya berjalan agak lambat. Film ini juga diputar di Venice Film Festival dan Toronto International Film Festival, dua panggung bergengsi yang menandai bahwa film ini lebih dari sekadar tontonan hiburan.
Pertanyaannya: ketika negara menutup ruang perlawanan, dan hukum menjadi alat untuk membungkam, apakah kekerasan menjadi satu-satunya jalan? Inilah dilema moral dan politis yang terus membayangi sepanjang film. Jim Grant bukanlah tokoh hitam-putih. Ia ayah, ia idealis yang kecewa, sekaligus simbol dari generasi yang pernah percaya bahwa dunia bisa diubah—dan membayar mahal untuk keyakinan itu.
Dalam konteks Amerika kontemporer, film ini muncul di tengah kebangkitan wacana tentang domestic terrorism, hak sipil, dan peran negara dalam membentuk narasi sejarah. Kita hidup di era ketika aktivisme politik—baik dari kiri maupun kanan—mudah distempel sebagai ancaman keamanan nasional.
Namun yang lebih menarik, barangkali, adalah resonansinya dengan Indonesia. Sejak reformasi 1998, kita menyaksikan aktivisme berubah bentuk. Negara tak lagi secara terang-terangan membunuh aktivis, tapi menghidupkan kembali pola lama: pelabelan, kriminalisasi, dan pengadilan opini publik. Kasus-kasus seperti penangkapan aktivis lingkungan, pembubaran diskusi akademik, hingga ujaran kebencian yang dilegalkan lewat UU ITE, menunjukkan bahwa ruang aman bagi dissent mulai menyempit lagi.
Seperti Jim Grant, banyak aktivis di negeri ini yang akhirnya memilih jalan sunyi. Mereka kembali ke dunia sipil, membangun sekolah, lembaga bantuan hukum, atau sekadar hidup tenang. Namun bayang-bayang masa lalu selalu membuntuti. Di mata negara, mereka tetap “radikal” yang sewaktu-waktu bisa dijadikan kambing hitam.
The Company You Keep bukan sekadar film nostalgia bagi generasi tua, atau thriller politik bagi penonton muda. Ia adalah refleksi tentang harga dari menjadi berbeda, dan tentang bagaimana negara—yang mengklaim paling demokratis seperti AS sekalipun—bisa menjadi mesin pelupa yang kejam. Dan kita, para penonton dan pembaca, diajak bertanya: jika hukum kehilangan nurani, lalu pada siapa kita menggantungkan keadilan?
Dalam dunia yang makin kompleks, film ini mengajak kita menengok kembali batas-batas antara kejahatan dan perlawanan. Dan mungkin, seperti Grant, kita semua adalah mantan idealis yang sedang belajar berdamai dengan dunia yang tak jadi kita ubah.
(Denny Septiviant – Aktivis Mahasiswa 98′ / Politisi PKB)