Earth Day, Perlawanan Ekologis, dan Solidaritas Global

Setiap 22 April, Earth Day diperingati di lebih dari 190 negara. Dari penanaman pohon, bersih-bersih sungai, hingga kampanye digital, hari ini menjadi ajang kepedulian terhadap planet yang kita huni bersama. Namun, di balik semangat itu, kita juga perlu bertanya: mengapa bumi masih rusak parah meski kita memperingatinya setiap tahun?

Untuk menjawabnya, saya mengajak Anda menonton kembali film Battle in Seattle (2007), karya Stuart Townsend. Film ini bukan tentang bencana ekologis, melainkan tentang perlawanan terhadap sistem global yang menjadi akar dari krisis tersebut: Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), lembaga simbol kapitalisme global yang dianggap mempercepat kerusakan lingkungan dan ketimpangan sosial.

Dalam konteks Earth Day, film ini memberi pesan yang relevan: menyelamatkan bumi bukan hanya soal gaya hidup ramah lingkungan, tetapi soal perjuangan struktural melawan sistem ekonomi yang mengeksploitasi alam dan manusia.

Kapitalisme Global dan Ekspansi Eksploitatif

WTO kerap dianggap netral, teknokratis, dan demi “pertumbuhan ekonomi”. Namun, perjanjian-perjanjian dagangnya sering memfasilitasi ekspansi korporasi besar ke wilayah Negara-Negara Selatan. Ini memicu privatisasi air, deregulasi pertanian, dan pembukaan lahan skala besar yang mengorbankan masyarakat lokal.

Vandana Shiva, ilmuwan dan aktivis lingkungan asal India, menyebutnya sebagai bentuk “pembangunan yang salah arah”. Dalam bukunya Staying Alive, ia menulis:

“Ecological destruction and the marginalization of women are not separate processes. They are interconnected consequences of the same maldevelopment paradigm.”

Dengan kata lain, krisis lingkungan dan ketimpangan sosial tidak bisa dipisahkan. Keduanya adalah produk dari sistem yang sama—kapitalisme global yang patriarkal dan eksploitatif.

Battle in Seattle merekam kembali peristiwa nyata: demonstrasi besar di Seattle pada tahun 1999 yang berhasil menggagalkan konferensi WTO. Ribuan orang turun ke jalan: buruh, aktivis lingkungan, mahasiswa, hingga petani. Mereka menuntut keadilan ekonomi dan perlindungan lingkungan hidup yang adil.

Tokoh Lou (diperankan Jennifer Carpenter), seorang aktivis lingkungan, dalam salah satu adegan memimpin rapat aksi dan menekankan bahwa semua demonstrasi harus damai dan berdasarkan consensus. Ia berteriak:

“Pecinta alam dan pekerja bersatu!”

Kalimat ini bukan retorika. Ini adalah pernyataan politik penting: bahwa perjuangan ekologis dan perjuangan kelas harus berjalan beriringan. Dalam adegan lain, Lou menyapa serikat buruh dan berkata, “Musuh kita sama: mereka yang di dalam WTO.” Film ini membongkar batas antara gerakan sosial yang seringkali terpecah, dan menunjukkan bahwa hanya lewat solidaritas lintas isu, perlawanan bisa berdampak.

Vandana Shiva dan Solidaritas Ekologis

Mengapa kutipan Vandana Shiva penting dalam konteks ini? Karena ia merepresentasikan suara dari masyarakat di negara-negara selatan, suara yang kerap terpinggirkan dalam diskursus lingkungan global. Shiva mengkritik bagaimana sistem global meminggirkan perempuan, petani kecil, dan komunitas adat atas nama efisiensi dan pertumbuhan.

Dalam Soil Not Oil, Shiva juga menulis:

“The people who are being displaced by climate change and corporate land grabs are also the ones who hold the key to ecological sustainability.”

Artinya, penyelamatan bumi tidak bisa dilakukan dengan pendekatan top-down atau teknokratik. Kita perlu mendengarkan komunitas-komunitas yang selama ini menjaga hutan, sungai, dan tanah—seringkali tanpa disebut dalam kebijakan besar.

Film Battle in Seattle memperlihatkan bahwa kritik terhadap WTO bukan soal proteksionisme sempit, melainkan soal kedaulatan komunitas dan keberlanjutan jangka panjang. Shiva dan para aktivis lainnya di negara-negara selatan membuktikan bahwa perjuangan lingkungan adalah perjuangan demokrasi.

Dari Seattle ke Rempang

Apa hubungannya semua ini dengan Indonesia? Banyak. Jika kita lihat konflik di Rempang, misalnya, warga lokal yang telah mendiami wilayah tersebut selama puluhan tahun digusur demi proyek investasi asing. Logika yang sama seperti dalam perjanjian-perjanjian WTO: deregulasi, insentif untuk investor, dan pengorbanan masyarakat demi pertumbuhan ekonomi.

Begitu juga dengan proyek IKN, pertambangan di Papua, dan eksploitasi sawit di Kalimantan. Semuanya menunjukkan bahwa krisis ekologis di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari logika ekonomi global. Di sinilah, solidaritas ekologis menjadi penting. Kita perlu menghubungkan perjuangan lokal dengan konteks global—persis seperti yang ditampilkan dalam film tersebut.

Earth Day sebagai Earth Fight

Dua dekade sejak Seattle, Earth Day telah berubah menjadi ajang kampanye perusahaan—dari iklan air kemasan “ramah lingkungan” hingga komitmen hijau yang semu. Namun, semangat asli dari Earth Day adalah perlawanan: terhadap polusi, terhadap perang, terhadap ketidakadilan.

Battle in Seattle mengingatkan kita bahwa bumi takkan diselamatkan oleh niat baik atau teknologi semata. Ia hanya bisa diselamatkan jika kita berani menggugat struktur yang merusaknya. Kita perlu kembali pada pertanyaan dasar: siapa yang paling diuntungkan dari kerusakan ini? Dan siapa yang paling dirugikan?

Earth Day, jika ingin tetap relevan, harus menjadi Earth Fight—sebuah perlawanan kolektif demi keadilan ekologis, sosial, dan politik. Dan seperti Lou dalam film berkata, “Ini bukan soal satu kota, ini soal masa depan dunia.”


Biodata Penulis:

Penulis adalah politisi dan advokat, pendiri kantor hukum Shakra, Co., serta pengamat hubungan antara kebijakan global dan keadilan lingkungan. Ia juga aktif dalam pengembangan kebijakan yang mendukung keberlanjutan dan pemerintahan yang transparan.

Bagikan:

komentar