29 Tahun Evil Empire: Musik Perlawanan dan Kesadaran Mahasiswa di Era Orde Baru

Pada 16 April 1996, Evil Empire, album kedua Rage Against the Machine (RATM), dirilis secara global. Bagi sebagian orang, album ini mungkin hanya dianggap sebagai sekumpulan lagu rap-metal agresif. Namun bagi saya, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Diponegoro pada semester lima kala itu, Evil Empire adalah pintu masuk menuju kesadaran politik. Ia menjadi pemantik intelektual yang membuka jalan ke bacaan progresif, perdebatan kritis, dan akhirnya, tindakan nyata di tengah cengkeraman represif Orde Baru.

Sebagai mahasiswa yang gelisah melihat ketimpangan dan kekuasaan yang otoriter pada waktu itu, saya mendengar lagu-lagu seperti “People of the Sun“, “Bulls on Parade”, dan “Down Rodeo” bukan sekadar hiburan. Mereka adalah seruan untuk bertindak. “Rally ’round the family / With a pocket full of shells,” teriak Zack de la Rocha dalam “Bulls on Parade”—sebuah kritik terhadap militerisme dan kapitalisme Amerika. Di balik energi dan kemarahan itu, booklet album menyisipkan daftar bacaan politis—dari Karl Marx hingga Chomsky—yang perlahan membentuk arah intelektual saya.

Setelah mendengarkan kaset itu berulang kali, saya kembali meminjam fotocopy-an Das Kapital dari seorang senior. Karl Marx menjadi pintu masuk menuju pemahaman tentang teori nilai lebih, relasi produksi, dan eksploitasi kelas. Lalu saya membaca 1984 karya George Orwell, yang menggambarkan bagaimana pengawasan total menjadi instrumen kekuasaan yang menindas. Tidak lama kemudian, saya menemukan pemikiran Noam Chomsky—melalui Necessary Illusions dan Manufacturing Consent. Chomsky menjelaskan bagaimana media massa dalam demokrasi liberal dapat menjadi alat propaganda, menciptakan kesepakatan palsu untuk mendukung agenda elite. “Propaganda adalah bagi demokrasi seperti pentungan bagi negara totaliter,” tulis Chomsky (1989).

Bacaan-bacaan ini mengkristal dalam diskusi-diskusi kecil, posko aksi, dan ruang-ruang alternatif mahasiswa. Musik menjadi jalan masuk ke teori. Lagu menjadi pintu masuk ke buku. Nada menjadi jembatan menuju ideologi. Dalam konteks Indonesia menjelang akhir Orde Baru, Evil Empire hadir di momen yang genting: krisis ekonomi mulai mengguncang, ketidakadilan makin terbuka, dan pemerintah kehilangan legitimasi.

Gerakan mahasiswa kritis waktu itu tidak hanya turun ke jalan dengan spanduk dan megafon, tetapi juga membawa pemahaman struktural tentang kapitalisme global, imperialisme budaya, dan represi ideologis. Kami membaca Fanon, Althusser, hingga Gramsci. Musik RATM menjadi soundtrack perlawanan. “I was born bad / And I’m nation’s son / This ain’t no holiday,” ucap de la Rocha dalam “People of the Sun”—lirik yang menggugah kesadaran historis tentang kolonialisme dan perlawanan.

Dalam wawancaranya bersama Rolling Stone (1996), de la Rocha menegaskan bahwa “musik adalah alat perjuangan politik—ia menyampaikan amarah, pengetahuan, dan harapan.” Kritik keras terhadap sistem kapitalisme, militerisme, dan rasisme bukan hanya narasi lirik, tetapi menjadi identitas RATM sebagai band aktivis.

Secara komersial, Evil Empire meraih sukses besar. Album ini debut di posisi pertama Billboard 200 dan meraih platinum di berbagai negara, termasuk AS dan Kanada. Lagu “Bulls on Parade” bahkan dinominasikan dalam Grammy Awards 1997. Kesuksesan ini memperlihatkan bahwa gagasan-gagasan kritis bisa masuk ke ranah budaya populer dan mempengaruhi generasi muda secara luas.

Kritikus musik Jon Pareles dari The New York Times mencatat bahwa “RATM menyalurkan amarah politik melalui kombinasi unik antara hip-hop dan heavy metal, menciptakan suara yang bukan hanya agresif, tetapi juga cerdas dan artikulatif” (1996). Album ini membuktikan bahwa perlawanan bisa dikemas dalam format yang membumi namun tetap membakar.

Kini, 29 tahun kemudian, saya memutar ulang album ini—kali ini bukan dari kaset, tapi dari CD edisi Japan Domestic Market yang saya koleksi. Suaranya masih sama garangnya. Liriknya masih tajam. Dan yang paling penting, semangatnya tetap relevan. Di era ketika neoliberalisme menjelma lebih cair dan terselubung, ketika represi hadir dalam bentuk algoritma, sensor digital, dan polarisasi media sosial, kita masih butuh Evil Empire sebagai pengingat.

Kita masih butuh seni yang menggugah. Masih butuh musik yang mengganggu. Masih butuh lirik-lirik yang mencabik ilusi. Karena seperti yang saya pelajari saat itu: satu lagu bisa membawa kita ke satu buku, dan dari satu buku, kita bisa menata seluruh jalan hidup yang baru.

Untuk itu, saya ucapkan: selamat ulang tahun, Evil Empire. Terima kasih telah menyalakan api itu—api yang masih menyala di dada banyak orang yang tak ingin tunduk pada tirani zaman.


Bio Penulis:

Denny Septiviant adalah Politisi cum Advokat dan pendiri kantor hukum Shakra, Co., serta pengamat budaya populer. Ia tumbuh bersama musik kaset dan gelombang grunge awal 1990-an, dan percaya bahwa seni, musik, dan hukum bisa menjadi alat pembebasan dalam masyarakat yang makin terjebak pada komodifikasi dan ilusi kebebasan.

Bagikan:

komentar